Thursday, 28 April 2016

UMKM KOTA TANGERANG , CULINARY NIGHT & KONVEKSI KAOS DAN JEANS

Di tengah situasi pelemahan ekonomi, Kota Tangerang termasuk salah satu kota yang terus berusaha mengembangkan maupun mempertahankan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Salah satunya dengan memfasilitasi usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Bahkan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah sangat rajin menghadiri berbagai kegiatan yang terkait pengembangan usaha ekonomi kerakyatan tersebut. Berbagai festival dan gelaran pun diadakan. Sebut saja mulai Tangerang Expo, Festival Cisadane, Festival Al Azhom, Kuliner Malam Pasar Lama, Festival Betawi dan banyak kegiatan lainnya yang selalu disertai dengan penyediaan lahan buat UMKM.

Seperti yang terlihat di Kawasan Pasar Lama, di Jalan Kisamaun ketika digelar acara kuliner malam pasar lama atau Culinary Night, Sabtu  malam. Dari anak-anak hingga usia lanjut turut meramaikan gelaran kuliner malam yang kali ini mengusung gaya 70-an ini. Acara ini ramai pengunjung.

Para pengunjung pun tampak menyukai acara ini karena memiliki banyak pilihan kuliner khas Nusantara. "Selain banyak pilihan makanannya, hiburan dan tema acaranya setiap saya datang selalu menarik. "Padat banget jalan aja sampai berdesakan," ujar salah seorang pengunjung.

Menurut Arief Wismansyah yang membuka acara tersebut, event kuliner pada malam hari yang sudah menjadi agenda rutin di Kota Tangerang, setiap penyelenggaraannya menunjukkan peningkatan. Hal ini di antaranya dapat dilihat dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang sehingga seringkali menimbulkan kemacetan, tapi positifnya dapat menambah indeks kebahagiaan.

"Walau belum ada penelitian menambah indeks kebahagiaan, dilihat kasat mata banyak orang yang datang, untuk makan, menikmati suguhan hiburan maupun bersilaturahmi satu sama lain," ujar Wali Kota yang turut didampingi sang istri dan para pejabat di lingkup Pemkot Tangerang.

Dia berharap, dengan hadirnya event ini akan semakin menarik para wisatawan dalam maupun luar kota. Dan yang terpenting memberikan peluang usaha kecil dan menengah di bidang kuliner untuk berkembang dan mengembangkan usahanya.
Menurut Arief, penting baginya menumbuhkan ekonomi masyarakat karena ekonomi yang lesu karena daya beli masyarakat menurun, dapat meningkatkan kerawanan sosial di tengah masyarakat.
“Kita akan selalu menumbuhkan ekonomi masyarakat. Ini penting sekali untuk menghindari kerawanan sosial. Berbagai kejahatan yang muncul awalnya dari persoalan ekonomi,” kata Arief.

Berbagai program yang dijalankan oleh Pemkot Tangerang untuk menggerakkan perekonomian masyarakat, antara lain melalui program padat karya yang ada di berbagai instansi di lingkup Pemkot.
Pemkot juga menawarkan program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan usaha kecil dan menengah. 

Salah satu bidang usaha yang mendapat prioritas adalah industri konveksi. Usaha ini mempunyai potensi yang cukup besar untuk perkembangan sektor perekonomian dari produk pakaian jadi. Meski demikian, para pelaku usaha konveksi maupun sumber daya manusia (SDM) yang ada belum memiliki cukup daya saing dari segi kualitas dan desain. Produk-produk yang dihasilkan cenderung monoton dan kurang mengikuti perkembangan mode.

Oleh karena itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Tangerang berupaya berperan aktif dalam mengimplemetasikan pelaksanaan isu-isu strategis yang ada di Kota Tangerang berupa peningkatan perekonomian, salah satunya dengan mengembangkan produk pakaian jadi.
Kasie Bina Industri Kimia, Argo, dan Hasil Hutan (IKAHH) Disperindagkop Kota Tangerang, Rokbi Hijaz mengatakan, jumlah usaha konveksi yang ada di Kota Tangerang sebanyak 312, yang tersebar di wilayah Kecamatan Cipondoh, Larangan, dan Batu Ceper. Meski jumlahnya cukup banyak, namun kebanyakan pangsa pasar produk mereka hanya di tingkat Kota Tangerang, belum ke luar daerah.

“Permasalahnnya mereka tidak bisa berkembang karena tidak memiliki kreativitas untuk mencipatkan desain sendiri, kurang pengetahuan dengan desain pakaian, dan kurang mutu produksi. Mereka masih meniru desain orang, malahan kalau mereka baru produksi, model baru sudah keluar lagi, akhirnya untuk bersaing kita agak kurang,” jelasnya.

Akhir tahun ini, kata Rokbi, pemerintah pusat akan segera memberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di mana nantinya produk-produk dari luar negeri, akan membanjiri pasar dalam negeri. “Saat ini saja, banyak produk tekstil dari Tiongkok yang beredar di pusat tekstil Tanah Abang dan Cipulir. Karena itu SDM kita harus siap untuk bersaing dengan dengan produk luar,” jelasnya.

Rokbi mengatakan, Disperindagkop melakukan upaya dengan memberi pelatihan kualitas desain. Para pengusaha konveksi ini banyak diajarkan mulai dari cara membuat pola, mengenal desain-desain baru pakaian hingga materi dasar seperti pengenalan bahan. “Mereka diberikan bimbingan dan pengarahan terlebih dahulu kemudian diberikan materi mengenai manfaat dan peningkatan hasil usaha hingga praktik membuat pakaian dan desain baru,” jelasnya.

Disperindagkop, kata dia, tidak hanya membantu meningkatkan SDM para pengusaha konveksi dengan pelatihan, namun nantinya juga akan membantu pemasaran produk lewat pameran-pameran baik tingkat kota maupun nasional. Namun, para pengusaha konveksi terlebih dahulu harus membuat produk dengan desain dan kualitas yang baik. “Kita banyak event pameran seperti Tangerang Expo. Kalau perlu kita akan koordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk pameran ke luar negeri, sehingga produk konveksi Kota Tangerang bisa menghadapi persaingan baik di pasar domestik maupun ke pasar global,” paparnya.

Selain usaha konveksi yang mendapat prioritas pengembangan usaha adalah produk kemasan.
Menurut Rokbi, kemasan produk-produk yang dijual UMKM ini masih kurang menarik dan higienis. Banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya standar kemasan produk yang lebih menarik dan dapat menjaga kualitas produk. Akibatnya, produk yang dihasilkan UMKM tersebut tidak punya daya saing.

"Kemasan produk UMKM kita, seperti makanan, ringan, minuman, dan kue-kue masih jauh dari menarik. Desain seadanya, dan kebanyakan hanya dibungkus plastik tanpa ada merk. Kendalanya memang mereka kurang informasi," kata Rokbi pekan lalu.
Padahal, menurut Rokbi, kebanyakan konsumen lebih dahulu melihat kemasan sebelum mencicipi produknya. Desain kemasan merupakan media komunikasi untuk mempromosikan produk itu sendiri. "Kemasan awal menarik orang untuk tertarik pada produk, baru melihat isinya. Kemasan juga fungsi utama pemasaran, sebagai media promosi, di samping untuk menjaga kualitas produk agar tetap awet," ujarnya.

Industri Kaos dan Jeans Treny Group salah satu yang sering di kunjungi oleh Disperidagkop Kota Tangerang

No comments:

Post a Comment